Selasa, 02 Mei 2017

Bu Sekdes Dan Anaknya Hot

Pada waktu kuliah kerja nyata (KKN) di suatu desa terpencil di Jawa Tengah yg belum terjangkau angkutan dari arah kota, bahkan untuk mencapai jalan raya yg di lalui mobil angkutan, harus jalan kaki selama dua jam, kukira warganya masih terbelakang dan kurang pergaulan. Maklum di desa itu yg dihuni sekitar seratus keluarga, hanya satu keluarga yg mempunyai tv dengan menggunakan aki. Tetapi kenyataanya lain. Inilah kisah sex ku di tengah-tengah penduduk tersebut.
Di desa itu kebetulan aq menginap di rumah sekretaris desa (sekdes), yg ternyata seorang ibu muda aq taksir usianya kurang dari 40 thn. Tubuh langsing, kulit putih mulus dan rupawan. Memang lain dibandingkan dengan penduduk kebanyakan disekitarnya. Dan yg membuatku sangat bergairah adalah karena statusnya yg janda beranak satu.
Disuatu sore ketika aq baru datang dari kampus untuk urusan skripsi, kudapati rumah mbak Yulia (begitulah panggilan sekdes yg rumahnya aq tempati itu) nampak sepi. Tubuhku basah kuyup, karena kehujanan sepanjang perjalanan kaki dari jalan raya. Aq dorong pintunya dan ternyata pintunya tdk terkunci. Aq segera menuju kamarku, Kulepas semua pakaianku dan kukeringkan tubuhku dengan handuk. Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekati kamarku, kuintip dari balik korden, mbak Yulia melangkah mendekat ke kamarku “Kesempatan nih” kataku dalam hati.

Aq terus mengeringkan kepalaku dengan handuk sehingga mataku tertutup dan pura-pura tdk tau kalau mbak Yulia mendatangi kamarku. Tanpa kusengaja batang penisku tegang mengeras. Gelantungan kesana kemari ketika tergoncang karena gosokkan yg keras di kepalaku.
Benar saja mbak Yulia membuka korden kamarku, namun aq pura-pura tak melihatnya, walaupun dari pori-pori handuk aq melihat mbak Yulia dengan raut mukanya sungguh kaget, tetapi diam saja. Bahkan sepertinya dengan seksama memperhatikan batang penisku yg makin lama makin tegang mengeras oleh tatapan mbak Yulia. Aq pun pura-pura kaget ketika kulepas handukku dari kepalaku.

“Wwohhhh, mbak Yulia, kirain siapa” aq sengaja membiarkan batang penisku tdk kututupi, ada perasaan bangga memperlihatkan batang penisku di saat sedang gagah-gagahnya.
“Dik Aris, datang kok nggak bilang-bilang sih” bicaranya cukup tenang, seakan-akan tdk melihatku aneh.
“Iya mbak, baru datang terus kehujuanan”
“Aduhh, nanti masik angin lho, mbak ambilkan minyak angin ya, dik..”
“Sudah mbak nggak usah, takut panas”
“Lha iya biar anget gitu lho”

“Maksut aq, takut panas kalau kena ini, lho mbak” jawabku sambil menunjuk batang penisku.
“Ah dik Aris bisa aja, mikirin apa sih kok nunjuk-nunjuk kayak gitu” kali ini mbak Yulia melihat batang penisku, sungguh bahagainya diriku. “Ihh, besar banget sih dik” sambungnya.
“Pernah aq ukur 18cm kok mbak” aq melangkah mendekati mbak Yulia.
“Ih, dik Aris bisa aja, pakai diukur-ukur segala” kupegang pundak mbak Yulia dan dia diam saja.
“Sepi banget mbak, kemana anak-anak yg lain.”
“Emmm.. anu dik, lagi bertemu sama pak Bupati” tampaknya mbak Yulia agak gugup dan seperti mau melangkah mundur ke belakang. Tapi kutahan dia, ketika kukecup keningnya ia diam saja. Kulanjutkan kukecup bibirnya, ia juga diam saja. Bahkan mbak Yulia memberikan sambutan hangat.
Kini mbak Yulia aktif menciumi tubuhku dengan gemasnya, aq diam saja, dan kulucuti pakaian mbak Yulia. Ketika kulepas BH nya, aq tertegun, toketnya masih padat dan mulus, ukurannya tdk besar dan tdk kecil. Perutnya langsing, cembung di bawah, sedikit di atas rambut memeknya. Mbak Yulia terus menyerangku dengan ciuman-ciuman yg membuatku kelojotan dan jatuh ke ranjang karena terdorong oleh kuatnya desakan mbak Yulia yg sudah dalam keadaan bugil itu. Aq hanya bisa memegang toketnya sambil mengelus, meremas dan memilin-milin puting susunya.
Mbak Yulia terus mencium setiap inci tubuhku, telingaku, leherku, lenganku, perutku dan pahaku. Batang penisku yg sudah tegang mengeras dipegangnya terus seakan sudah menjadi miliknya seutuhnya saja. Diciumnya kepala penisku, aq menggelinjang kegelian. Namun mbak Yulia tdk meneruskan. Sambil tersenyum mbak Yulia berbisik,
“Nanti saja yah…”

Sambil memeluk dan menciumiku dangan mesra dan membalikkan posisinya sehingga aq berada di atasnya. Kini posisiku lebih leluasa, aq bisa memandang keindahan tubuh mbak Yulia, setiap senti dari permukaan tubuh itu kuciumi dengan penuh nafsu.

Nafas mbak Yulia mulai memburu, cukup lama kutempelkan pipiku di perutnya. Sambil tanganku terus meremas-remas toketnya. Kepalaku kuturunkan ke bawah, kuciumi paha dalamnya, hingga sampailah ke memeknya. Kujilati klitorisnya, hingga mbak Yulia mendesah pelan sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. lubang memek mbak Yulia sudah basah oleh cairan kenikmatanya, aq terus menjilati klitorisnya.

Setelah jenuh aq menjilati memeknya, aq bersiap-siap mengarahkan batang penisku ke lubang memeknya, dengan cepat ia membimbing batang penisku. Tampak masih lumayan seret, sehingga tdk semuanya batang penisku langsung bisa menghujam ke dalam lubang memeknya. Setelah beberapa maju mundur barulah semuanya batang penisku tenggelam hingga ujung penisku menyentuh dinding memeknya yg terdalam. Mbak Yulia melenguh, mengerang dan makin memelukku dengan erat.

“Teruss dik Ariss.. terussss… tahan dikk, aq.. mauu… keluaarr, oogghhh…” pelukannya semakin erat sambil meluruskan kedua kakinya, hingga batang penisku terasa terjepit. Nikmat luar biasa. Hingga aq pun tak tahan lagi untuk membendung lendir kenikmatanku. Aq segera mencabut batang penisku dan kukocok-kocok hinngga menyemburlah lendir kenikmatanku di atas perutnya.

Beberapa detik kemudian heninglah suasana kamar itu. Tampaknya hari sudah mulai malam, hujan terus turun dengan lebatnya. Nafas mbak Yulia masih terdengar memburu dengan tubuhnya terbaring dengan lemas. Aq terlentang di sampingnya. Mbak Yulia segera tidur dengan kepala bersandar di perutku, menghadap ke penisku. Aq pun tertidur juga.

Pada waktu mbak Yulia membangunkanku, untuk makan malam. Aq mengenakan piyamaku dan menuju ruang makan, dan mbak Yulia mengenakan daster tipis. Ketika kurogoh dari bawah dasternya, ternyata mbak Yulia tdk mengenakan CD. Mbak Yulia mengelak dengan genit meskipun sempat tersentuh juga.

Dalam pebincangan selama makan malam, baru kutahu bahwa dia mempunyai soerang anak perempuan sekolah di sekolah pekerja sosial di kota Semarang. Seminggu sekali ia pulang kerumah. Anis, anak mbak Yulia, orangnya memang manis dan supel.

Hari minggu dia memang datang dan aq sempat ngbrol dengan Anis. Waktu itu ibunya sedang ada tugas mendampingi pak Kades menerima kunjungan dari DPRD. Saking akrabnya aq ngobrol dengan Anis, hingga tak canggung-canggung lagi ia keluar masuk kamarku maupun sebaliknya. Bahkan ketika Anis meminta bantuanku untuk membuatkan tugas teks pidato, aq tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamarnya. Secara tak sengaja aq menemukan sebuah amplop kecil di atas meja belajarnya. Ketika kubuka amplop itu ternyata berisi beberapa gambar porno kategori XXX. Anis terlihat cuek ketika kuamati gambar-gambar tersebut. Tak terasa batang penisku mulai berontak.

Tiba-tiba Anis membungkukkan badan tepat di depanku, sambil ikut melihat gambar porno tersebut.
“Aku nggak pakai Bra lhoooh…” mendengar kata-kata itu membuatku kaget bukan kepalang. Ketika aku melihat wajahnya ternyata wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku. Dan yg bikin aku tambah kaget begitu aku melirik kearah dadanya terlihat toket yg bergelantung indah tanpa terbungkus Bra.

Dengan segera aku merangkulnya, sambil kuciumi bibir manisnya. Anis membalas dengan tak mau kalah ganasnya. Kumulai membuka kaosnya, kuciumi putingnya yg ranum tapi agak nonggol, sama persis kayak punya mbak Yulia. Aku melepas semua pakaian yg menempel di tubuh Anis, begitu juga dengan CDnya. kuraih memek Anis yg beleum begitu lebat oleh jembut, sehingga belahan lubang memek yg berwarna merah jambu dapat terlihat dengan jelas. Tangan Anis pun ikut merogoh ke dalam celana pendekku, begitu dia menemukan batang penisku yg sudah tegang dia lalu menarikku ke tempat tidur.

Aku lepaskan pakaian yg kukenakan, hingga telanjang bulat. Lalu aku berbaring di tempat tidur dengan posisi terlentang, memberi kesempatan pada Anis untuk menikmati seluruh bagian tubuhku yg sangat kubanggakan ini. Dan benar saja, Anis pun dengan segera mengulum batang penisku dengan liarnya. Meski belum profesional, aku teteap menikmati setiap jilatannya. Mungkin dia ingin mempraktekkan apa saja yg pernah dia lihat pada gambar porno yg dia miliki.

“Aduh, jangan sampai kena gigi” jeritku pelan ketika giginya menggesek ujung penisku.
“Ohya mas…maaf mas gak sengaja…” kembali dia menjilati seluruh batang penisku. Hingga kedua biji penisku tdk luput dari jilatan liarnya. Reaksiku meringis menikmatinya.
Setelah tak ada lagi variasi dari mulutnya untuk penisku, lantas kubimbing dia untuk tidur terlentang. Diapun menurut saja. Kubuka perlahan pahanya, kini dengan jelas terlihat lubang memek yg cantik dan menggairahkan. Ketika kubuka, kulihat warna merah menantang, sedangkan lendirnya sudah banyak mengalir keluar. Posisiku sudah siap untuk menggenjot memeknya. Batang penisku tepat berada di depan lubang memeknya.

“Anis, masih perawan nggak sih?” tanyaku.
Anis tak menjawab pertanyaanku, dia malah menarik bokongku hingga masuklah batang penisku ke dalam memeknya. Memang belum sepenuhnya masuk, habisnya masih sempit sih. Aku hampir tak tega ketika melihat Anis meringis menahan sakit sambil memejamkan matanya.
“Sakit ya Nis?…aku cabut aja ya?”
“Jangan Mas” bisik Anis sambil menjepit punggungku dengan kedua kakinya.

Perlahan-lahan kugerakkan maju mundur, karena sempitnya lubang memeknya. Mmebuat Anis menggeleng-gelengkan kepalanya hingga sebuah erangan panjang. Namun segera kuciumi mulutnya agar erangannya itu tdk terdengar tetangga.
Orgasme Anis lama sekali, seperti orang kesurupan, kepalanya kupegangi erat-erat agar mulutnya tdk terlepas dari ciumanku. Sehingga eranganya itu tertelan sendiri. Tubuhnya mengejang kuat, pelukannya erat sekali.

Ahkirnya tumpahlah kenikmatan Anis. Aq sangat senang sekali bisa memuaskannya. Biarpun aku belum orgasme, aq sangat puas sekali. Anis tertidur pulas, aq segera mengenakan pakaianku, dan dengan melangkah ke arah kamarku dekat kamar mbak Yulia. Di depan kamar mbak Yulia terdengar suara, saat kusingkap dan aq terkejut ternyata ada mbak Yulia. Aq ketakutan dan hampir tak bisa bicara. Dengan suara seadanya aq bertanya,
“Ohh, mbak Yulia kok sudah pulang” tdk kusangka mbak Yulia tersenyum manis, mendekatiku dan mencium mulutku. “Jadi, mbak Yulia tau kalau aq habis begituan sama Anis?”
“Iya, anak sekarang memang lain dengan jamanku dulu, baru kenal udah tidur bareng”
Aq hampir tak mempercayai ini, batang penisku masih belum puas, karena memang belum keluar. Mbak Yulia tau itu. Ia melucuti celanaku dan langsung mengulum batang penisku dengan lihainya hingga keluarlah lendir kenikmatanku. Mbak Yulia tersedak, dan segera menuju dapur untuk minum. Aq hanya bengong aja Lama tak bergerak dari tempatku berdiri. Batang penisku tergantung dengan santainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar