Rabu, 03 Mei 2017

Cerita Sex Bu Septi Teman Istriku

Suatu malam hari aku sampai di rumah sekitar jam setengah 7 malam, aku ketemu istriku Nuniek, di teras dan minta dia bikinin kopi. Aku buru-buru masuk kamar mandi yang ada dikamar utamaku, bilang sama dia kalo kebelet pipis, padahal aku mau ngecek kalo ada bekas-bekas lipstick atau apa lainnya dari Bu Henny atau Bu Yanti tadi. Aku mandi air panas dari shower sekitar 10 menit. Badanku jadi segar kembali. Aku lupa enggak bawa handuk jadi keluar dari kamar mandi telanjang. 

Aku sedang cari handuk, istriku masuk ke kamar terus bilang
“Bugil, nich ye. Sini, aku cariin handuk”. Dia ambil handuk, dikasihkan ke aku, tapi tangannya sempat memegang penisku sambil ngomong
“Yang beginian aja koq banyak yang nyari”.
Dheg, aku kaget dalam hati. Apa dia tahu lagi aku menyeleweng? Apa dia tahu hari ini aku masuk hotel sama cewek? Apa Bu Harni udah telepon dia?
Aku masih diam dan takut ketahuan, ketika istriku bilang
“Kopinya udah siap Mas, mumpung masih panas cepat diminum, ada lumpia sama cake juga tuch”.
“Iya, iya”, kataku.

Aku pakai celana pendek dan kaos dan ke ruang keluarga minum kopi dan menikmati snack, sambil baca koran sementara istriku menemani, juga Septi, teman istriku. Sekitar jam 7. 30 aku masuk kamar, bilang mau tidur dulu. Aku betul-betul cape, habis seharian ngerjain 2 perempuan masing-masing 2 kali lagi. Aku terlelap.  

Aku terbangun ketika merasakan ada tangan halus menggerayangi penisku, aku buka mata eh istriku duduk diranjang dan cepat sekali mencopot celana pendekku sekaligus celana dalam ku dia langsung sedot penisku dia kulum dia jilat-jilat kepala penisku biji pelerku.  

Ini betul-betul kejutan karena sudah lama sekali dia enggak pernah ngoral aku. Tapi aku juga khawatir jangan-jangan dia mau bikin ngaceng penisku terus memotongnya, karena aku ingat kata-kata dia waktu ngambilin handuk tadi”Yang beginian aja koq banyak yang nyari”.
Aku jadi waspada, tetapi itu enggak terjadi, malah sesudah sekitar 5 menit istriku ngoral penisku, langsung dia buka semua pakaiannya, kaosku juga dibukain dan dia jongkok diatas penisku, nafsu sekali dia, dia pegang dan masukin ke vaginanya, dia main atas menghadapku sekitar 7 menit, ganti posisi membelakangiku tanpa mencabut penisku (persis seperti Bu Yanti tadi siang), dia menurun-naikkan pantatnya kencang sekali, penuh gairah yang enggak biasa-biasanya. Karena rahasia keluarga, aku enggak ceritain detilnya, yang jelas sesudah sekitar 20 menit aku masih bisa keluarin pejuh meski cuma beberapa tetes.  

Sesudah selesai, istriku dengan lembut sekali membersihkan penisku, dia sendiri kemudian ke kamar mandi, terus tiduran diatas dadaku, dia elus-elus dadaku, dikecupnya bibirku. Aku sangat heran dengan perlakuannya yang sudah lama sekali enggak dia berikan padaku.

Akhirnya dia bilang “Mas, aku mau cerita dan minta sesuatu ke Mas. Tapi sangat rahasia, Mas”.
“Ada apa, Niek? Kalo bisa, ya kenapa enggak?”.
Dengan suara lembut akhirnya istriku buka rahasia, kalo dia meminta aku memberikan kehangatan buat Ibu Septi. Bu Septi, teman istriku, usianya 42 th, punya anak 1 dan suaminya lagi tugas belajar diluar negeri sudah 1 th tinggal 1 th lagi. Dulu Septi diajak suaminya ke LN enggak mau, dia memilih ambil MM bidang IT (Information Technology) di satu universitas di Jakarta, dengan izin cuti panjang dari perusahaannya di Solo.  

Selama di Jakarta, dia banyak tinggal di rumah kami, meski sering bolak balik Jakarta-Solo menengok anaknya yang diasuh orang tua Bu Septi. Aku tahu dia rajin sekali belajar dan cari data dari banyak instansi, juga mengakses internet untuk mendapatkan data maupun pengetahuan IT yang modern dari universitas di Jepang, Amrik juga Inggris. Dia juga sangat rajin senam, fitness maupun BL, beberapa kali aku temanin dia jogging di Senayan.

Dia selalu anggun dengan BLazer dan mobil kecil yang dibawanya dari Solo, meskipun dirumah selalu santai dengan pakaian longgar. Memang bodynya aduhai sekali, ditambah kulitnya yang mulus kencang. Payudaranya kelihatan kencang, pinggulnya bagus dan pantat bulat padat. Tapi aku enggak pernah mikirin Bu Septi yang aneh-aneh. Waktu aku kelihatan bengong mendengarkan permintaan istriku, istriku bilang kalo Bu Septi sendiri yang memintanya, sudah beberapa kali dengan pertimbangan2 mendalam.

Bu Septi selama ini mencoba menahan hasrat sexualnya melalui kegiatan-kegiatan belajar, senam, fitness, BL, tapi keinginan bersanggama enggak bisa dihilangkan. Bu Septi onani, tapi enggak puas juga. Waktu suaminya belum ke LN mereka paling sedikit sehari sekali ML. Bu Septi juga punya teman deket selama belajar di Jakarta, dia pikir apa mau ngajak mereka ML. Tapi akhirnya Bu Septi memilih aku, karena dianggap bisa menjaga rahasia, demikian juga istriku, tanpa Bu Septi dan suami serta keluarganya kehilangan nama baik di masyarakat. Istriku sendiri bilang kalo tidak keberatan.
“Itulah Mas, ceritanya. Kalo Mas mau, malam ini aku atur acara sama Ibu Septi. Tapi terus terang tadi aku kerjain Mas, soalnya aku mau duluan sebelum Bu Septi kerjain punya Mas ini”, kata istriku sambil tersenyum nakal sambil memegang penisku.
Aku masih diam saja, enggak percaya sama permintaan yang enggak masuk akal ini, tidur sama Ibu Septi yang sama sekali nonsense menurutku. Petang Hari Dengan Ibu Septi Kami makan bertiga, aku duduk diujung meja dengan istri disebelah kananku dan Ibu Septi disebelah kiriku. Pemandangan biasa sehari-hari. Tapi kali ini, bukan lagi biasa. Aku makan cukup banyak.
Sesudah makan, Ibu Septi mau kupasin mangga, tapi istriku bilang
“Nggak usah Bu, biar aku aja. Ibu temanin Mas aja”.

Kami di meja makan sekitar 30 menit. Kecuali cerita bohong kalo aku cape sekali kena macet dijalan dan banyak kerjaan harus ke Cikarang ngecek inventory disana, aku banyak diam, tapi pikiranku mulai ngebayangin Ibu Septi yang memang cantik, anggun, berwibawa dan sexy, aku bayangin gerakan2nya kalo fitness, kalo senam ringan waktu pantatnya nungging, waktu jogging buah dadanya goyang-goyang. Ibu Septi suka dansa, dia juga bisa tari Jawa. Enggak terasa lutut kaki kiriku menempel ke kaki kanan Bu Septi dibawah meja dan ini mulai menimbulkan sensasi sexual yang menggairahkan.
Sesudah selesai makan, istriku bilang
“Ibu keatas dulu ya, siapin VCD, kita karaoke bareng-bareng. Aku mau benahin ini dulu”, kata istriku yang cepat membersihkan meja dll karena pembantu kami cuman kerja siang hari aja, jadi kami cuma bertiga kalo malam hari.
Istriku memang baik sekali, dia juga siapin vitamin h. n dan i. (nggak boleh sebut merek kan?) supaya aku perkasa, dia tersenyum waktu nyuruh aku minum, mungkin dalam hati dia bilang
“Nih biar kuat, tadi kan cuma ngecret aja”.
Kami bertiga berkaraoke ria di kamar keluarga diatas. Suasana santai yang diciptakan istriku, lagu-lagu yang kami nyanyikan bersama, benar-benar memberikan kelegaan, keriangan dan kedekatan hatiku dengan Bu Septi. Rasa cape-cape hilang semuanya. Aku duduk ditengah diapit Nuniek dan Ibu Septi di sofa besar yang empuk, kadang-kadang berdiri waktu nyanyi, sekali-sekali makan cake dan minum coca cola yang disediakan istriku.


Ada sekitar 1 jam acara karaokean ini, terus istriku ngusulin kita melantai aja, dia pilih lagu-lagu berirama walts seperti Tenneese Waltz, The Last Waltz dan sejenisnya. Istriku mula-mula ajak aku dansa, dia seakan demonstasikan didepan Ibu Septi gimana pasangan suami-istri dansa sambil berpelukan erat, pipi menempel, tangan meraba pantat dansa yang pelan merangsang.
Sesudah 3 lagu, kemudian dia suruh aku gantian sama Ibu Septi sambil berbisik
“Sekarang Mas sama Bu Septi ya. Aku ikhlas sekali, Mas”.
Aku enggak perlu lagi menjawabnya, karena aku memang sudah ingin mendekap Ibu Septi. Aku dekatin Septi, aku ajak dia dengan senyum yang Bu Septi balas dengan senyum manis sekali, aku rangkul kemudian langkah kakiku dan Bu Septi mengikuti waltz demi waltz yang enggak terputus, karena udah disetel sama istriku. Awalnya aku belum rapat memeluk Bu Septi, mungkin aku ragu dan dia juga malu-malu, tapi aku mulai merasakan kehangatan tubuh indah ini, body tinggi dengan porsi atletis, lekuk-liku yang artistik sekali, Hemm, Bu Septi memakai parfum yang merangsang seperti yang dipakai Bu Yanti tadi.

Aku yang Cuma pakai celanda pendek dan kaos, juga Bu Septi dengan short ketat dan kaos pendek tanpa beha berpelukan erat dan semakin erat, kepalanya bersandar di bahuku, payudaranya menempel ketat di dadaku, pantatnya yang besar keras aku rapatkan sambil terus aku elus-elus, barangnya yang cembung menempel dipenisku yang keduanya hanya dibatasi celana. detak jantungku bertambah kuat, nafas menderu panas.
Aku lihat istriku udah enggak ada lagi, dia sangat baik memberikan kesempatan kami mereguk kehangatan. Sambil kaki masih mengayun enggak karuan lagi mengikuti irama lagu, aku copot kaosku dan aku juga mencopot kaos ketat Bu Septi. Bukan main Semua cewek hari ini kalah sama Bu Septi, susu Bu Henny kalah besar, payudara Bu Yanti kalah kenyal, juga istriku tentu saja.
Aku masih meneruskan ayunan kaki, tapi bibir ini mulai mencium buah dada Bu Septi hingga dia mengerang, aku kulum pentilnya yang masih kecil (mungkin dulu dia enggak nyusuin anaknya) warnanya kemerahan. Aku enggak tahu lagi apa musik masih mengalun apa enggak, tangan ini mulai meremas buah dada yang indah sekali itu mengelus perutnya yang kecil meraba dan menekan pantatnya yang besar keras aku tempelkan penisku kencang sekali keshort ketatnya yang membentuk cembung karena vaginanya Di atas ada kamar yang cukup besar, ceritasexhot.org aku ayunkan Bu Septi dengan langkah pelan kedalam sambil berpelukan erat, aku hidupkan AC dan aku melantai atau lebih tepat mengadu badan didepan kaca besar.

Aku nikmati tubuh indah melalui kaca, aku rasakan kehangatan nafas Bu Septi, aku hirup wangi tubuhnya wangi wanita yang minta dipuaskan syahwatnya. Bu Septi kelihatan malu waktu melihat dirinya di kaca, dia alihkan pandangan ketempat lain. Aku sengaja lama-lamain kemesraan ini, sekaligus memulihkan kondisiku alias mengembalikan keperkasaan penisku setelah minum vitamin dan obat kuat dari istriku tadi. Ibu Septi pasrah tapi enggak mau pro-aktif, mungkin masih malu, dia biarkan aku berbuat apa saja menggerayangi lekuk-liku tubuhnya dan kemudian melucuti short dan sekaligus celana dalam nya kaki yang indah, paha yang berisi. Aku renggangkan pelukan dan pandang tubuh indah Bu Septi, dia malu.

“Mas, jangan dilihat gitu ach”, sambil dia merebahkan badannya ke aku.
Aku peluk dia, aku cium dan aku balikkan kearah kaca.
“Mas, malu ah Mas”, kata Bu Septi waktu melihat tubuhnya telanjang bulat di kaca.
Tapi aku perkuat rangkulanku sambil meremas buah dadanya, aku cium lehernya dan tanganku yang lain meraba-raba pusat kewanitaannya yang berambut tipis tanganku kuat memegang pahanya aku buka selangkangannya, aku telusuri vaginanya yang kenyal aku elus belahannya.
“Mas. udah Mas.”, kata Bu Septi dan memang aku merasakan cairan hangat keluar dari vaginanya.
“Aku keluar Mas”.
Dia mulai gemetar, lalu aku angkat dia ke ranjang besar. aku rebahkan dan lagi aku raba-raba vaginanya. aku elus itilnya. aku lihat merah sekali. Bu Septi cepat-cepat menutupinya, tapi aku angkat lagi tangannya karena aku mau menikmati pemandangan ‘apem Solo belah tengah’ yang gurih ini. Aku sengaja enggak mau ngoral dia, aku sentuhkan jariku pelan-pelan ke itilnya. Bibir kemaluan Bu Septi semakin basah.

Aku enggak tahan lagi, aku lepas celana pendek dan celana dalamku aku naik ke atas dan aku arahkan penisku yang ngaceng keras itu kelubang kemaluan Bu Septi aku tekan sekali dua kali belum masuk, akhirnya tangan Septi membantu mengarahkan ke lubang kemaluannya yang sempit sekali, dan akhirnya BLees kepala penisku menembus kemaluan Bu Septi yang rapet, sesak rasanya.
Aku maklum vagina Bu Septi udah setahun enggak kemasukan penis jadi kaget tapi senang sekali apalagi tadi aku bilang kepala penisku memang besar meski panjang penisku biasa-biasa aja. Aku sadar siapa yang aku setubuhi, maka aku beraksi gentleman cara halus aku pakai aku tusuk pelan tapi mantap ada mungkin 5 menit ketika Bu Septi berbisik”Mas cape ya? Biar aku yang kerja”.
Bu Septi ambil alih kendali senggama, dia goyangkan pantatnya enggak terlalu cepat, tapi dia kerja dengan tenaga dalamnya otot-otot vaginanya mencengkeram erat penisku memiji-mijit batang kemaluanku, aku betul-betul keenakan, jarang sekali perempuan bisa empot-empot ayam seperti Bu Septi. Istriku pernah coba, tapi enggak lagi sesudah punya anak, beberapa cewek bisa empot-empot ayam, yang terlama dan terkuat aku ingat Mbak Rita cewek Kuningan yang aku pernah aku entotin tiga kali.

Aku enggak perlu keluar banyak energi menyetubuhi Bu Septi, aku naik turunkan penisku pelan-pelan dan dalam-dalam di lubang senggama Bu Septi, sementara empot-empot vaginanya terus mengurut-urut batang penisku sedangkan mulutku menyedot buah dada putih besar bagai hidangan yang harus dinikmati, tangan Bu Septi memelukku erat, tangan kananku meremas bokong dia dan angan kiriku menahan berat badanku. shhssh, sshh. desis Bu Septi terus menerus ada sekitar 10 menit, lalu Bu Septi mengerang”Maas, aku keluar lagi Maas.”.
Aku cium keningnya, bukannya Bu Septi melemah tapi dia pindahkan kedua tanganku dikiri kanan mepet buah dadanya dan tangan dia dua-duanya memegang sandaran ranjang Bu Septi keluarkan tenaga dalam lebih hebat lagi pantat memutar teratur sekali lebih keras dan, empot-empot-empot-empot vagina Bu Septi lebih sering dan lebih kencang memijat-mijat penisku.
“Maas. aduuh.”, Bu Septi orgasme lagi, tapi pantatnya terus berputar dan empot-empotnya enggak berhenti berhenti.

Penisku dengan kuat aku gosokkan kekiri-kanan bibir vaginanya, aku senggol-senggolkan ke itil Bu Dian sementara aku senang sekali pandangin wajah Bu Septi yang merem melek, mulut terbuka agak lebar aku jawab haus gairah Bu Septi dengan tusukan-tusukanku kejantananku, aku penuhin dahaga syahwati Bu Septi dengan sodokan-sodokan kemaluanku yang kuat, aku bikin Bu Septi menggelinjang mengerang penuh nikmat birahi.
“Aah. aah. aahh.”, erangan erotis Bu Septi yang semakin keras sampai akhirnya aku tumpahkan air maniku dalam-dalam ke vagina Bu Septi.
“Mas. Maas. Maas.”, jerit kecil Bu Septi sambil kakinya mancal-mancal dan dia tarik aku, dia gigit leherku.

Airmaniku ternyata cepat direproduksi, cairan kelaki-lakianku banyak masuk ke vagina Bu Septi, pejuh kental hangatku memenuhi hasrat terpendam kewanitaan Bu Septi, dia puas Agak lama aku masih benamkan penisku di vagina Bu Septi, aku enggak mau lepaskan keajaiban bersenggama dengan Bu Septi, begitu juga Septi masih menjepitkan vaginanya kepenisku dengan merapatkan pahanya. Kami berdua diam, tersenyum penuh makna, kemudian Septi meneteskan air mata. Aku hapus airmata itu dan aku berbaring disampingnya, aku belai dia.
Lama juga Bu Septi diam menenangkan diri sebelum dia bangkit, mengecup bibirku dan bilang”Mas tiduran aja, ya”.

Dia masuk ke kamar mandi yang juga ada di lantai atas, dia bersihkan diri sekitar 5 menit dan ke ranjang lagi, membersihkan penisku dengan handuk kecil yang sudah dibasahin, mesra sekali dia perlakuan atau pelayanan dia, sesudah selesai, dia merangkul aku, aku sun keningnya, kami berbaring berpelukan.

“Mas, Mas Hikam betul jaga rahasia ya. Aku cuman percaya sama Mas Hikam dan Mbak Nuniek”.
“OK, sayang. You can trust me”, kataku sambil mempererat dekapanku.
Kami berdua telanjang berpelukan, buah dadanya menempel dadaku, kaki kiriku ditindih kaki kanannya, kaki kananku menindih kaki kirinya. pikiranku melayang-layang penuh kepuasan, janganlah kenikmatan ini berlalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar